04 Maret, 2014

Jadilah Seperti Lebah, Bukan Lalat

BEKAM KHUSUS MUSLIMAH 

 BEKAM SURABAYA 




KAMI MELAYANI BEKAM KHUSUS MUSLIMAH ATAU WANITA

contact ummu izzul 

telp: 088805704623

alamat kali kepiting jaya 4/54 sby 

 

 

Jadilah Seperti Lebah, Bukan Lalat



Seorang penyair berkata :
شَرُّ الْوَرَى بِعُيُوْبِ النَّاسِ مُشْتَغِلُ …. مِثْلُ الذُّبَابِ يُرَاعِي مَوْطِنَ الْعِلَلِ
Seburuk-buruk manusia adalah yang hanya sibuk mencari aib/kekurangan orang-orang…. Seperti lalat yang hanya memperhatikan bagian luka
فَعَيْنُهُ أَبَداً باِلسَّوْءِ مُغْرَمَةٌ …. فَلاَ يَرَى غَيْرَ قَبِيْحِ الْفِعْلِ وَالْخَلَلِ
Selalu saja matanya tertarik dengan melihat keburukan… Maka tidaklah ia memandang kecuali perbuatan buruk dan kesalahan…
وَلاَ تَرَى عَيْنُهُ إِلاَ مَسَاوِئَنَا …. وَتَشْتَهِي رُْؤَيَةَ الأَوْضَارِ وَالزَّلَلِ
Tidaklah matanya melihat kecuali keburukan-keburukan kita…Bahkan ia senang jika melihat kotoran-kotoran dan ketergelinciran…
يَكْبِلُ النَّاسَ بِالأَصْفَادِ تَمْنَعُهُمْ …. مِنَ النُّهُوْضِ وَتَفَشِّي الْحِسِّ بِالْفَشَلِ
Ia mengikat manusia dengan belenggu yang menahan mereka …untuk bangkit dan menjadikan orang-orang selalu merasa gagal…
Ada sebagian orang yang hobinya hanya mencari-cari kesalahan dan kekurangan, hampir-hampir tidak ada sesuatupun yang menyenangkannya. Tidaklah ia memandang makanan yang lezat terhidangkan kecuali matanya tertuju pada sehelai rambut yang tidak sengaja terjatuh di atas makanan tersebut, lalu diapun mencela makanan tersebut!
Tidak ada buku yang baik dan bermanfaat kecuali matanya tertuju pada kesalahan cetak yang terdapat pada buku tersebut, tidaklah ia melihat pakaian yang bersih kecuali matanya tertuju pada setetes tinta yang –tanpa sengaja- mengotori baju tersebut.
Jika ia mengendarai kendaraan sahabatnya, maka spontan ia berkata, “udah tua model mobilmu!”. Jika ia masuk ke rumah sahabatnya ia spontan berkata, “perabot rumah udah lama dan usang, kenapa tidak diganti-ganti? apa tidak bosan?“. Jika ia pulang kerumahnya –sementara istrinya sudah berjam-jam menyiapkan hidangan makanan- maka ia berkata, “kenapa engkau tidak membuatkan aku makanan ini dan itu?“, padahal istrinya telah menyiapkan berbagai macam hidangan.
Lihatlah adab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata :
مَا عَابَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَْط كَانَ إِذَا اشْتَهَى شَيْئًا أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan, jika ia suka maka ia makan, dan jika ia tidak suka maka beliau tinggalkan” (HR Al-Bukhari no 3563 dan Muslim no 2064)
Anas bin Maalik radhiallahu ‘anhu berkata,
وَاللهِ لَقَدْ خَدَمْتُهُ تِسْعَ سِنِيْنَ مَا عَلِمْتُهُ قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا؟ أَوْ لِشَيْءٍ تَرَكْتُهُ هَلاَّ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا؟
“Demi Allah aku telah melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sembilan tahu, aku tidak pernah mengetahuinya berkata kepada apa yang aku kerjakan, “Kenapa engkau melakukan ini dan itu”, dan tidak juga pernah berkata kepada sesuatu yang aku tinggalkan, “Kenapa engkau tidak melakukan ini dan itu?” (HR Muslim no 2309).
Jadilah engkau seperti lebah yang hanya mengambil kebaikan dari sari-sari bunga dan meninggalkan keburukan-keburukan, bukan seperti lalat yang mencari-cari luka-luka yang bau. Sungguh kasihan orang yang modelnya seperti ini, ia menyiksa dirinya dan juga menyiksa orang lain. Tidak ada sesuatupun yang memuaskan dirinya, dan perkataannya selalu menyakiti perasaan orang lain, perasaan sahabatnya, bahkan perasaan istrinya. Bahkan bisa jadi orang-orang akan membalas perbuatannya, mencari-cari dan mengumbar kesalahan-kesalahannya !
Al-Imam As-Syaafi’i rahimahullah berkata :
إَذَا رُمْتَ أَنْ تَحْيَا سَلِيْماً مِنَ الرَّدَى …. وَدِيْنُكَ موفورٌ وَعِرْضُكَ صَيِّنُ
Jika engkau ingin hidup selamat dari kehinaan…. Agamamu terjaga demikian pula harga dirimu…
فَلاَ يَنْطِقَنْ مِنْكَ اللِّسَانُ بِسَوْأَةٍ …. فَكُلُّكُ سَوْءَاتٌ وَلِلنَّاسِ أَلْسُنُ
Maka janganlah sekali-kali lisanmu mengucapkan keburukan….Sesungguhnya seluruh dirimu adalah kekurangan dan orang-orang juga memiliki lisan (yang bisa mencelamu)
وَعَيْنَاكَ إنْ أَبْدَتْ إِلَيْكَ مَعَايِباً …. فَدَعْهَا ، وَقُلْ يَا عَيْنُ لِلنَّاسِ أَعْيُنُ
Dan jika kedua matamu melihat aib-aib (orang lain)… maka tinggalkanlah dan katakanlah kepada matamu, “Wahai mataku, sesungguhnya orang-orang juga memiliki mata”
وَعَاشِرْ بِمَعْرُوفٍ ، وَسَامِحْ مَنِ اعْتَدَى …. وَدَافِعْ وَلَكِنْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Hendaknya engkau bergaul dengan cara yang baik, maafkanlah orang yang bersalah kepadamu…Serta tolaklah kesalahan orang tersebut akan tetapi dengan cara yang terbaik
Ingatlah kata Imam As-Syafi’i, “dirimu seluruhnya adalah kekurangan!“. Jika orang lain ingin mencari kesalahanmu maka seluruh bagian tubuhmu bisa menjadi bahan celaan, songkokmu, kaca matamu, cara jalanmu, wajahmu, tubuhmu, semuanya bisa jadi bahan celaan!
Tapi…
Ini bukan berarti kita meninggalkan nasehat, bahkan menasehati kesalahan-kesalahan merupakan kewajiban. Akan tetapi janganlah terlalu detail dan bersikap “mencari-cari”, akan tetapi kesalahan yang jelas nyata dan tersebar maka tegakkanlah nasehat sebagai pengamalan perintah Allah dan RasulNya dalam ber-nahi mungkar!
Wallahu A’lam bi As-Showaab
—
Penulis: Ustadz Firanda Andirja, Lc., MA.
Artikel Muslim.Or.Id

Awas Track Record Kita!

 

BEKAM KHUSUS MUSLIMAH 

 BEKAM SURABAYA 




KAMI MELAYANI BEKAM KHUSUS MUSLIMAH ATAU WANITA

contact ummu izzul 

telp: 088805704623

alamat kali kepiting jaya 4/54 sby 

 

Awas Track Record Kita!



Track record atau bahasa Indonesianya rekam jejak perlu kita perhatikan. Kalau sudah baik, lanjutkan. Kalau belum, perbaiki. Ada pelajaran yang menarik dari kisah 2 orang yang sama-sama terjebak di lautan, yang satu selamat, yang satu celaka, karena track record mereka.
Kisah pertama adalah seorang yang dilemparkan ke lautan karena hasil undian. Muatan kapal yang dianikinya terlalu penuh dan seisi kapal sepakat untuk mengundi siapa yang harus keluar dari kapal alias diterjunkan ke laut. Tiga kali undian, semuanya menunjuk hasil yang sama, Nabi Yunus alaihissalam. Akhirnya beliau dilemparkan ke lautan dan ditelan oleh seekor ikan yang sangat besar. Kala terjepit itu, Yunus berdoa dan Allah mengabulkannya. seraya berfirman:
فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Seandainya dia tidak termasuk orang-orang yang mengingat Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari kiamat” (Qs as Shaffaat: 143-144)
Allah selamatkan Yunus ‘alaihissalam karena track record-nya, “kaana minal musabbihiin” (dulu dia termasuk orang yang sering mengingat Allah).
Kisah kedua adalah kisah seorang raja yang sedang mengejar musuhnya. Raja itu bernama Firaun dan musuhnya adalah Nabi Musa ‘alaihi salam. Pengejaran sampai ke tepi laut, Allah izinkan Musa dan kaumnya melewati lautan dengan terbelahnya lautan, Firaun tetap mengejar. Musa sudah sampai ujung lautan, Firaun dan pasukannya masih di tengah. Allah tutup jalan lautan, tenggelamlah Firaun dan pasukannya yang masih ada di tengah. Di tengah kegalauannya dan ketika nyawanya hampir melayang, Firaun baru ikrarkan keimanan kepada Allah dan mengaku sebagai muslim, tapi Allah tolak seraya berfirman:
آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan” (Qs Yunus: 91)
Allah enggan selamatkan Firaun karena track record-nya, “Qad ‘ashaita min qoblu wa kunta minal mufsidiin” (Dulu kamu orang yang durhaka dan bikin kacau di sana sini).
Hikmah ini bisa dibaca dalam Jami’ul Ulum wal Hikam dalam penjelasan hadits ke 19 ketika membahas bagian wasiat Rasulullah kepada Ibnu Abbas, “Ingatlah Allah ketika engkau dalam keadaan lapang, Allah akan mengingatmu ketika kamu dalam keadaan sempit” dan itulah pesan dari kisah Yunus ‘alaihisalam dan Firaun, ingatlah Allah di waktu kita lapang, sehat, gagah dan berkecukupan. Balasannya, Allah akan ingat kita di waktu kita sempt, sakit, lemah, banyak hutang, Allah akan mengingat kita dengan pertolonganNya.
—
Penulis: Amrullah Akadhinta, ST.
Artikel Muslim.Or.Id

Bersyukur Ketika Senang, Bersabar Ketika Mendapat Bencana

 

BEKAM KHUSUS MUSLIMAH 

 BEKAM SURABAYA 




KAMI MELAYANI BEKAM KHUSUS MUSLIMAH ATAU WANITA

contact ummu izzul 

telp: 088805704623

alamat kali kepiting jaya 4/54 sby 

 

Bersyukur Ketika Senang, Bersabar Ketika Mendapat Bencana



Dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له
“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”[1].
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan bersyukur di saat senang dan bersabar di saat susah, bahkan kedua sifat inilah yang merupakan penyempurna keimanan seorang hamba. Abdullah bin Mas’ud berkata: “Iman itu terbagi menjadi dua bagian; sebagiannya (adalah) sabar dan sebagian (lainnya adalah) syukur”[2].
Dalam Al-Qur’an, Allah memuji secara khusus hamba-hamba-Nya yang memiliki dua sifat ini sebagai orang-orang yang bisa mengambil pelajaran ketika menyaksikan tanda-tanda kemahakuasaan Allah. Allah berfirman:
إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kemehakuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur” (QS Luqmaan: 31).
Beberapa faidah penting yang dapat kita petik dari hadits ini:
  • Imam Ibnul Qayyim berkata: “(Hadits di atas menunjukkan bahwa) tingkatan-tingkatan iman seluruhnya  (berkisar) antara sabar dan syukur”[3].
  • Kehidupan seorang mukmin seluruhnya bernilai kebaikan dan pahala di sisi Allah, baik dalam kondisi yang terlihat membuatnya senang ataupun susah.
  • Seorang hamba yang sempurna imannya akan selalu bersyukur kepada Allah ketika senang dan bersabar ketika susah, maka dalam semua keadaan dia senantiasa ridha kepada Allah dalam segala ketentuan takdir-Nya, sehingga kesusahan dan musibah yang menimpanya berubah menjadi nikmat dan anugerah baginya.
  • Orang yang tidak beriman akan selalu berkeluh kesah dan murka ketika ditimpa musibah, sehinnga semua dosa dan keburukan akan menimpanya, dosa di dunia karena ketidaksabaran dan ketidakridhaannya terhadap ketentuan takdir Allah, serta di akhirat mendapat siksa neraka.
  • Keutamaan dan kebaikan dalam semua keadaan hanya akan diraih oleh orang-orang yang sempurna imannya[4].
  • Rukun sabar ada tiga yaitu: menahan diri dari sikap murka terhadap segala ketentuan Allah I, menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang (Allah), seperti menampar wajah (ketika terjadi musibah), merobek pakaian, memotong rambut dan sebagainya[5].
  • Rukun syukur juga ada tiga:
    1. mengakui dalam hati bahwa semua nikmat itu dari Allah Ta’ala,
    2. menyebut-nyebut semua nikmat tersebut secara lahir (dengan memuji Allah dan memperlihatkan bekas-bekas nikmat tersebut dalm rangkan mensyukurinya), 
    3. menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah[6].
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Catatan Kaki
[1] HSR Muslim (no. 2999).
[2] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “’Uddatush shaabiriin” (hal. 88).
[3] Kitab “Thariiqul hijratain” (hal. 399).
[4] Keempat faidah di atas kami nukil dari kitab “Bahjatun naazhiriin” (1/82-83).
[5] Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Waabilish shayyib” (hal. 11).
[6] Ibid.

—
Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA.
Artikel Muslim.Or.Id

Pembuktian Cinta Sejati Dengan Menikah, Bukan Dengan Coklat

BEKAM KHUSUS MUSLIMAH 

 BEKAM SURABAYA 




KAMI MELAYANI BEKAM KHUSUS MUSLIMAH ATAU WANITA

contact ummu izzul 

telp: 088805704623

alamat kali kepiting jaya 4/54 sby 

 

 

Pembuktian Cinta Sejati Dengan Menikah, Bukan Dengan Coklat


Hari yang ditunggu oleh sepadang muda-mudi yang terperdaya yaitu hari valentine yang diklaim sebagai hari cinta dan kasih. Padahal sudah banya tersebar mengenai kisah yang sebenarnya mengenai asal usul hari Valentine. Tentu saja hukum merayakannya sudah jelas yaitu HARAM.
Adalah tepatnya sang pemudi yang lebih banyak tertipu daya, sang pemuda membuktikan cinta dengan sekedar surprise ungkapan romantis manis berbalut kata puitis, kemudian buah tangan yang terbingkis berisi coklat dan sepenggal kalimat yang membuat pemudi melayang ke langit impian. Sedangkan sang pemudi terperdaya dengan membuktikan cinta dengan keperawanan atau apalah, yang seharusnya itu dipersembahkan untuk suami halalnya kelak.

Pembuktian cinta hanya dengan menikah

Jika ada mengakui mencinta tetapi tidak menikahi atau segera menikahi maka itu semua hanya cinta kasih yang menjelma saja dalam pandangan mata yang berfatamorgana.  Walaupun yang diumbar adalah sajak romantis yang mengalahkan merdu kicauan burung, walaupun sentuhan sayang yang dibelai mengalahkan tetesan embun dan  walaupun buah tangan yang diberi adalah rangkaian melati bersanggul jelita. Semuanya tanpa pernikahan adalah semi palsu bahkan tipu daya.
Mengapa? karena orang yang paling mengetahui hakikat pembuktian cinta mengatakan bukti cinta adalah menikah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لم ير للمتحا بين مثل النكاح
“Tidak diketahui [yang lebih bermanfaat] bagi dua orang yang saling mencinta semisal pernikahan”1
Ulama pakar hati Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullahu berkata, “sungguh para dokter dan yang lainnya bersepakat dalam pandangan orang-orang yang berakal mengenai pengobatan, bahwa obat dari penyakit ini [mabuk cinta] adalah bertemunya dua ruh dan menempelnya dua badan [yaitu menikah]”.2
Sekali lagi, pembuktian cinta hanya dengan menikah!

Cinta prematur dan cinta lelehan lilin

Sebagian manusia terpedaya dengan cinta prematur, cinta yang belum takdir waktunya untuk diturunkan dari langit. Akan tetapi nafsu merenggut dan menarik paksa sehingga ia turun tertatih, cinta seadanya yang dipaksakan bertahan hidup. Atau mungkin akan lenyap dalam beberapa saat karena ia lahir sebelum garis batas waktunya yaitu pernikahan.
Cinta yang diumbar adalah cinta seumur hidup, padahal ikatannya masih belum mempuyai simpul dan tidak jelas. Cinta yang dikira tulus kepada diri dan jiwanya padahal ia hanya cinta kepada kecantikan rupa, hanya cinta pada harta dan kedudukan. Ketika kecantikan bersaing kuat berlomba dengan usia, maka kecantikan perlahan menyerah. Ketika hilang kecantikan, hilanglah cinta, kemana lagi rayuan yang dulu, kemana lagi buah tangan yang dulu, kemana lagi roman picisan. Apakah telah meleleh lebih cepat dari lelehan lilin yang membakar lenyap diri sendiri?
Mereka mengatakan cinta seumur hidup?  Walupun benar,  Jika umur telah menjadi perkara malaikat maut, maka usailah cinta, hanya sekedar menjadi sejarah di dunia yang sebentar lagi dilupakan oleh orang-orang karena episode generasi selanjutnya sudah menunggu. Karena semua yang ada di dunia ini adalah akan sirna, termasuk cinta yang hanya mentok dengan cita-cita ujung dunia saja. Allah Azza wa Jalla berfirman,
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” (QS. Ar-Rahman: 26)
Dan bisa jadi jika orang yang saling mencintai di dunia tanpa landasan cinta Allah akan menjadi saling bermusuhan di akhirat, Allah Azza wa Jalla berfirman,
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa” (QS. Az Zukhruf: 67).
Duhai para wanita dan insan yang mencari cinta, apakah ini cinta yang engkau cari? Cinta yang berumur sehari saja? Atau berumur semalam di malam Valentine?

Jangan Menjadi Seperti Qarun

 

BEKAM KHUSUS MUSLIMAH 

 BEKAM SURABAYA 




KAMI MELAYANI BEKAM KHUSUS MUSLIMAH ATAU WANITA

contact ummu izzul 

telp: 088805704623

alamat kali kepiting jaya 4/54 sby 

 

Jangan Menjadi Seperti Qarun



Pernahkah anda melihat orang yg bergelimang dalam kekayaan dan kemewahan? Hartanya melimpah, rumahnya megah, kendaraannya mewah. Anda terkagum-kagum, dan berharap untuk bisa menjadi kaya sepertinya. Dan Mungkin anda juga tanpa pikir panjang segera menyimpulkan: dialah orang sukses.
Bukankah demikian sobat? Namun benarkah setiap orang yg kekayaannya melimpah berarti sukses?
Temukan jawabannya pada kisah berikut:
فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Lalu Qarun lengkap dengan segala perhiasannya keluar rumah menemui kaumnya. Kala itu orang2 yg menghendaki kehidupan dunia terkagum-kagum dan berkata: moga-moga kita diberi kekayan seperti yang diberikan kepada Qarun, sejatinya ia adalah orang benar-benar mendapat keberuntungan besar” (QS. Al Qashas 79)
Namun setelah Qarun ditimpa azab dan ditelan bumi beserta seluruh harta kekayaannya, barulah terbukti ternyata sukses apalagi kecintaan Allah tidaklah diukur dengan kekayaan.
وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلَا أَن مَّنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
“Dan orang-orang yang sebelumnya mengharapkan agar menjadi seperti Qarun, menjadi sadar dan berkata: aduhai benarlah bahwa Allah melapangkan rizqi bagi siapa saja yang Ia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya. Kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita niscaya Allah juga membenamkan kita. Aduhai benarlah, tidak beruntung orang – orang yang kufur” (QS. Al Qashas: 82)
Demikianlah orang yang picik dan lemah iman hanya menyadari kesalahannya setelah melihat siksa dan murka Allah. Adapun orang-orang yg berilmu dan beriman, senantiasa beriman kepada syari’at Allah walaupun belum melihat bukti kemurkaan Allah. karena itu walaupun Qarun belum ditimpa azab, mereka telah berkata:
وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ
“Sedangkan orang-orang yang berilmu: kecelakaan besar bagimu. pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan pahala itu tidaklah bisa didapat kecuali oleh orang-orang yang sabar” (QS. Al Qashas: 80)
Sobat, akankah kita menanti datangnya siksa dan petaka agar dapat menyadari arti dunia yang hanya sebagai salah satu model ujian Allah?
—
Penulis: Ustadz DR. Muhammad Arifin Baderi, Lc.,MA.
Artikel Muslim.Or.Id

Laksana Tetesan Air Yang Tergelincir Di Atas Batu

 

BEKAM KHUSUS MUSLIMAH 

 BEKAM SURABAYA 




KAMI MELAYANI BEKAM KHUSUS MUSLIMAH ATAU WANITA

contact ummu izzul 

telp: 088805704623

alamat kali kepiting jaya 4/54 sby 

 

Laksana Tetesan Air Yang Tergelincir Di Atas Batu


Malik bin Dinar rahimahullah pernah mengatakan:
إِنَّ الْعَالِمَ إِذَا لَمْ يَعْمَلْ بِعِلْمِهِ زَلَّتْ مَوْعِظَتُهُ عَنِ الْقُلُوبِ كَمَا يَزِلُّ الْقَطْرُ عَنِ الصَّفَا
“Sesungguhnya seorang alim jika dia tidak mengamalkan ilmunya maka nasihat-nasihatnya tidak akan merasuk ke dalam hati-hati, sebagaimana tetesan air tergelincir dari batu yang keras.”1
Atsar (perkataan salaf) di atas memberikan pelajaran penting kepada kita bahwasanya orang berilmu yang ingin menasihati atau memperbaiki orang lain, dia harus menasihati dan memperbaiki dirinya terlebih dahulu sebelum orang lain.
Jika tidak, maka nasihatnya tidak akan merasuk ke dalam hati-hati orang lain, dan mereka tidak akan bisa berubah. Oleh karena itu, mengamalkan ilmu sangatlah penting untuk keberhasilan dakwah seseorang, karena orang-orang yang didakwahi (mad’u) sangat membutuhkan teladan yang baik untuk dirinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan bagi para sahabat. Gerak-gerik beliau selalu diperhatikan oleh para sahabat. Mereka pun semangat untuk meniru apa yang dilakukan dan memakai apa yang dikenakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik teladan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)
Bahkan keteladanan beliau tidak hanya berlaku untuk para sahabat saja, tetapi untuk seluruh manusia di dunia ini sampai akhir zaman. Beliau adalah manusia yang paling sesuai perkataannya dengan perbuatannya.

Kebencian Allah Pada Orang Yang Tidak Mengamalkan Apa Yang Dikatakan

Allah sangat membenci orang yang hanya pandai berbicara dan pandai manasihati orang lain untuk mengerjakan sesuatu atau meninggalkan sesuatu, tetapi ternyata dia sendiri tidak melakukannya atau tetap tidak bisa meninggalkannya. Allah sangat membenci orang yang seperti itu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)
“(2) Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? (3) Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS Ash-Shaff: 2-3)

Pentingnya Sebuah Keteladanan Dalam Perbuatan

Umat di saat ini membutuhkan teladan yang baik, yang dibuktikan dengan tingkah, perilaku, adab dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Jika hanya dengan perkataan saja, maka hal tersebut tidaklah cukup.
Banyak dai menyeru agar kaum muslimin shalat berjamaah di masjid akan tetapi ternyata dia sendiri tidak shalat berjamaah di masjid. Banyak para pendakwah menyerukan agar berakhlak mulia dan pandai menjaga lisan, tetapi ternyata dia sendiri tidak memiliki akhlak mulia dan tidak bisa “menyaring” kata-katanya.
Perkataan saja tidak cukup, tetapi haruslah diberikan teladan dengan perbuatan. Bahkan, ketika perjanjian Hudaibiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dihalangi oleh orang-orang musyrik Quraisy untuk masuk ke kota Mekkah. Padahal pada saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat ingin berumrah. Akhirnya mereka pun tidak bisa melanjutkan umrahnya dan terpaksa membatalkan umrahnya dengan cara menyembelih hewan dan mencukur rambut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada para sahabat:
قُومُوا فَانْحَرُوا ثُمَّ احْلِقُوا
“Berdirilah kalian, kemudian sembelihlah dan cukurlah (rambut) kalian!”
Sahabat yang meriwayatkan hadits ini mengatakan, “Demi Allah tidak ada seorang pun yang berdiri, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya tiga kali. Ketika (beliau melihat) tidak ada yang berdiri, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menemui Ummu Salamah dan beliau pun menceritakan apa yang terjadi. Kemudian Ummu Salamah mengatakan, ‘Apakah engkau menginginkan hal itu? Keluarlah, kemudian janganlah engkau berbicara satu kata kepada seorang pun sampai engkau menyembelih untamu dan engkau panggil tukang cukurmu kemudian dia mencukurmu.’ Beliau pun melakukan apa yang disarankan oleh istri beliau. Ketika para sahabat melihat hal tersebut, mereka pun berdiri kemudaian menyembelih, kemudian sebagian mereka mencukur sebagian yang lain.” 2
Kita semua mengetahui bahwa para sahabat adalah orang yang paling taat dalam mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi ketika diperintahkan, mereka pun tidak cukup hanya dengan perkataan, tetapi mereka juga butuh praktik langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Begitu pula hadits berikut:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ -رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: اتَّخَذَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم- خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فَاتَّخَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَ مِنْ ذَهَبٍ, فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: (( إِنِّي اتَّخَذْتُ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ.)) فَنَبَذَهُ, وَقَالَ: (( إِنِّي لَنْ أَلْبَسَهُ أَبَدًا فَنَبَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَهُمْ.))
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya dia berkata, “Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai cincin dari emas, kemudian orang-orang pun memakai cincin dari emas. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Dulu saya memakai cincin dari emas’, kemudian beliau pun membuang cincin tersebut dan berkata, ‘Sesungguhnya saya tidak akan pernah memakainya lagi selama-lamanya.’ Kemudian orang-orang pun membuang cincin-cincin mereka.”3
Ini menunjukkan pentingnya sebuah keteladanan dalam perbuatan. Dan hadits ini juga menunjukkan semangat para sahabat yang sangat hebat dalam mengikuti dan mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Siapakah Yang Harus Kita Teladani?

Tentu saja yang pertama kali kita harus ikuti dan teladani adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian siapa? Kemudian orang-orang berikut ini:
1. Para nabi dan pengikutnya yang shalih
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang para Nabi ‘alaihimussalam:
أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ
“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh umat.” (QS Al-An’am: 90)
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ
“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul.” (QS Al-Ahqaf: 35)
Begitu pula dengan pengikut para Nabi yang shalih, Allah berfirman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kalian dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja” (QS Al-Mumtahanah: 4)
2. Para Sahabat Nabi
Para sahabat adalah orang yang harus kita teladani karena mereka telah diridai oleh Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi di umatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ.
“Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.”4
3. Para ulama dan orang-orang shalih
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ
“Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.”5
Selain berfungsi sebagai pewaris ilmu, maka para ulama juga harus menjadi contoh dalam beramal dan berdakwah untuk yang lain, sehingga layaklah seorang ulama dikatakan sebagian orang yang pantas diteladani sebagai penerus dan pewaris Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS At-Taubah: 100)
Orang-orang yang mengikuti para sahabat di dalam kebaikan sangatlah banyak. Dan mereka akan terus ada sampai hari kiamat nanti. Oleh karena itu, jika kita mendapatkan orang-orang yang mengikuti jalannya para sahabat dengan baik, maka sudah sepantasnya kita mengikuti teladan mereka.

Ganjaran Yang Besar Menjadi Teladan Yang Baik

Orang yang menjadi teladan yang baik untuk orang lain akan mendapatkan ganjaran yang sangat besar sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:
مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ
“Barang siapa mencontohkan ajaran/sunnah yang baik, maka dia akan mendapatkan pahala mengerjakannya dan pahala orang yang mengerjakannya juga setelahnya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka.”6

Dosa Akibat Menjadi Teladan Yang Buruk

Begitu pula sebaliknya orang yang menjadi teladan yang buruk untuk orang lain, dia akan mendapat ancaman yang besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ
“Barang siapa yang mencontohkan ajaran/kebiasaan yang buruk, maka dia akan mendapatkan dosa mengerjakannya dan dosa orang yang mengerjakannya juga setelahnya, tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.”7
Begitu pula, orang tersebut akan mendapatkan siksa yang amat pedih di neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِى النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلاَنُ مَا لَكَ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ فَيَقُولُ بَلَى قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ.
“Seorang laki-laki didatangkan pada hari kiamat, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian keluarlah usus-usus perutnya, kemudian dia berputar-putar mengelilinginya sebagaimana keledai mengitari poros ikatannya . Kemudian penduduk neraka pun mengatakan, “Wahai Fulan! Apa yang terjadi pada dirimu? Bukankan dulu engkau menyuruh untuk melakukan perbuatan yang makruf (baik) dan engkau melarang dari perbuatan yang mungkar (buruk)?” Dia pun menjawab, “Ya, dulu saya menyuruh (orang lain) untuk melakukan perbuatan makruf (baik) tetapi saya tidak mengerjakannya. Saya melarang dari perbuatan mungkar, tetapi saya mengerjakannya.”8

Contoh Yang Buruk Di Masyarakat 

Kalau kita perhatikan kehidupan di masyarakat kita banyak sekali orang-orang terkenal, para tokoh masyarakat, para tokoh agama dan orang-orang berpengaruh yang sangat tidak pantas untuk menjadi teladan yang baik. Bahkan sebaliknya, mereka menjadi teladan yang buruk untuk orang lain.
Layaknya Fir’aun, dia adalah orang yang terpandang dan sangat berpengaruh, tetapi ternyata pengaruhnya tersebut justru mengantarkan para pengikutnya ke dalam neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ (96) إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَاتَّبَعُوا أَمْرَ فِرْعَوْنَ وَمَا أَمْرُ فِرْعَوْنَ بِرَشِيدٍ (97)
يَقْدُمُ قَوْمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَوْرَدَهُمُ النَّارَ وَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُودُ (98) وَأُتْبِعُوا فِي هَذِهِ لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ بِئْسَ الرِّفْدُ الْمَرْفُودُ (99)
“(96) Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) kami dan mukjizat yang nyata, (97) Kepada Fir’aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, tetapi mereka mengikuti perintah Fir’aun, padahal perintah Fir’aun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar. (98) Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi. (99) Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia Ini dan (begitu pula) di hari kiamat. laknat itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan.” (QS Hud: 96-99)
Begitu pula dalam catatan sejarah, Allah subhanahu wa ta’ala apabila ingin menghancurkan suatu negeri, maka Allah menjadikan para pemimpin dan tokoh-tokoh mereka sebagai orang yang rusak, sehingga dicontoh atau ditiru oleh orang-orang di bawah mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al-Isra’: 16)

Contoh Yang Baik Dari Umar

Teladan yang baik juga ada pada para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Ketika beliau menjadi amirul-mukminin, Salim cucu beliau menceritakan:
عُمَرُ إذَا نَهَى النَّاسَ عَنْ شَيْءٍ جَمَعَ أَهْلَ بَيْتِهِ ، فَقَالَ : إنِّي نَهَيْت النَّاسَ عَنْ كَذَا وَكَذَا ، وَإنَّ النَّاسَ لَيَنْظُرُونَ إلَيْكُمْ نَظَرَ الطَّيْرِ إلَى اللَّحْمِ ، وَايْمُ اللهِ لاَ أَجِدُ أَحَدًا مِنْكُمْ فَعَلَهُ إلاَّ أَضْعَفْتُ لَهُ الْعُقُوبَةَ ضِعْفَيْنِ.
“Dulu ‘Umar apabila melarang manusia untuk melakukan sesuatu, maka beliau mengumpulkan keluarganya. Kemudian beliau berkata, ‘Sesungguhnya saya telah melarang manusia untuk melakukan ini dan itu. Orang-orang akan benar-benar melihat kalian sebagaimana seekor burung mengincar daging. Demi Allah! Jika saya mendapatkan seorang dari kalian melakukannya maka saya akan lipat gandakan hukumannya dua kali lipat.”9

Doa Yang Diabadikan Allah Dalam Al Qur’an 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan orang orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Furqan: 74)
Maksud dari menjadi ‘imam bagi orang-orang yang bertakwa’ adalah menjadi imam yang diteladani di dalam kebaikan. Sebagaimana dikatakann oleh Ibnu ‘Abbas, Al-Hasan, Qatadah dan Ar-Rabi’ bin Anas.10
Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita memohon kepada Allah agar menjadi pemimpin atau imam bagi orang-orang yang bertakwa, karena tidaklah mungkin seseorang menjadi pemimpin orang yang bertakwa kecuali dia telah menjadi orang yang bertakwa.

Renungan Untuk Para Da’i

Mengakhiri tulisan ini ada baiknya penulis nukilkan atsar salaf yang mudah-mudahan bermanfaat, khususnya kepada para dai.
عن مُحَمَّد بْن أَحْمَدَ الْفَرَّاء يَقُولُ: قِيلَ لِحَمْدُونَ الْقَصَّارِ: مَا بَالُ كَلَامِ السَّلَفِ أَنْفَعُ مِنْ كَلَامِنَا؟ قَالَ: لِأَنَّهُمْ تَكَلَّمُوا لِعِزِّ الْإِسْلَامِ، وَنَجَاةِ النُّفُوسِ، وَرِضَا الرَّحْمَنِ، وَنَحْنُ نَتَكَلَّمُ لِعِزَّةِ النَّفْسِ، وَطَلَبِ الدُّنْيَا، وَقَبُولِ الْخَلْقِ.
Diriwayatkan dari Muhammad bin Ahmad Al-Farra’, dia pernah mengatakan bahwa Hamdun Al-Qashshar pernah ditanya, “Mengapa perkataan salaf (orang yang terdahulu) lebih bermanfaat dari perkataan kita?” Beliau pun menjawab, “Sesungguhnya mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa-jiwa dan mengharap keridaan Ar-Rahman. Sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri kita, mencari dunia dan mengharapkan diterima oleh makhluk.”11
Demikian. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dan mengingatkan kepada kita agar bisa menjadi teladan yang baik untuk orang-orang di sekitar kita. Amin.

Daftar Pustaka
  1. Al-Qudwah Al-Hasanah fil-Qur’an Al-Karim. ‘Abdul-‘Aziz Salim Syaman Ar-Ruwaili. www.alukah.net.
  2. Al-Qudwah Al-Hasanah wa Atsaruha fi Bina-il-Jail. ‘Ali Naif Asy-Syahud. www.ahlalhdeeth.com
  3. Al-Qudwah wa Atsaruha fil-Murabbin. ‘Isham Khidhr. www.saaid.net.
  4. Fathul-Bari. Ibnu Hajar Al-‘Aqalani.
  5. Tafsir Ibni Katsir. Isma’il bin ‘Umar bin Katsir. Dar At-Thaibah.
  6. Dan sumber-sumber lain yang sebagian besar dicantumkan di dalam footnotes.

Catatan Kaki
1Ahmad dalam Az-Zuhd no. 1872, Al-Baihaqi dalam Syu’abul-Iman no. 1700 dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul-auliya’ (6/288).
2 Diterjemahkan bebas dari HR Al-Bukhari no. 2731 dan 2732.
3 HR Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 7298 dan dengan lafaz yang mirip no. 5865, 5866, 5867, 5876 dan 6651 Seluruhnya berasal dari riwayat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhu.
4 HR Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533.
5 HR Abu Dawud no. 3743, At-Tirmidzi no. 2682 dan Ibnu Majah no. 223. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah.
6 HR Muslim no. 1017.
7 Ibid.
8 HR Muslim no. 2989.
9 HR Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya no. 31285, Ma’mar bin Rasyid dalam Jami’ Ma’mar bin Rasyid no. 1319 dan ‘Abdur-Razzaq dalam Mushannafnya no. 20713 dari jalur Ma’mar. Dzhahir dari sanadnya shahih, alhamdulillah.
10 Tafsir Ibni Katsir (VI/133).
11 Al-Baihaqi dalam Syu’abul-Iman no. 1701 dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya’ (X/231).
—
Penulils: Ustadz Sa’id Yai, Lc.
Artikel Muslim.Or.Id
  1.  

Ujian Di Dalam Kehidupan

 

BEKAM KHUSUS MUSLIMAH 

 BEKAM SURABAYA 




KAMI MELAYANI BEKAM KHUSUS MUSLIMAH ATAU WANITA

contact ummu izzul 

telp: 088805704623

alamat kali kepiting jaya 4/54 sby 

 

Ujian Di Dalam Kehidupan



Kaum muslimin yang dirahmati Allah, hidup ini adalah ujian. Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan berbagai bentuk keadaan. Bencana, musibah, kesempitan, dan kesusahan; ini adalah sebagian bentuk ujian. Di sisi lain, ada pula kesenangan, kelapangan, kekayaan; ini pun bentuk lain daripada cobaan.
Dengan adanya musibah, akan tampak siapa yang sabar dan siapa yang tidak sabar. Dengan adanya nikmat, akan tampak siapa yang bersyukur dan siapa yang tidak bersyukur. Inilah perkara yang semestinya kita perhatikan di dalam hidup ini. Allah ta’ala berfirman,
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira dia dibiarkan begitu saja mengatakan ‘kami beriman’ lalu mereka tidak diberikan ujian?” (QS. al-’Ankabut: 2)
Ujian akan datang secara silih berganti. Seorang mukmin akan menghadapi ujian dengan iman kepada Allah dan ketundukan kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عجبًا لأمرِ المؤمنِ إنَّ أمرَه كلَّه خيرٌ إنْ أصابَتْه سرَّاءُ شكَر وإنْ أصابَتْه ضرَّاءُ صبَر وكان خيرًا له وليس ذلك لأحدٍ إلَّا للمؤمنِ
“Betapa mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika datang kepadanya kesenangan dia pun bersyukur. Maka hal itu baik baginya. Jika datang kepadanya kesusahan dia pun bersabar. Maka hal itu pun baik baginya. Dan tidaklah hal itu didapatkan kecuali oleh orang mukmin.” (HR. Muslim)
Sabar itu barangkali terasa pahit. Namun, seperti kata orang bijak, buahnya lebih manis daripada madu. Kesabaran seorang mukmin di dunia akan membuahkan pahala dan kenikmatan tiada tara di surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga diliputi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, sedangkan neraka diliputi perkara-perkara yang menyenangkan” (HR. Bukhari dan Muslim)
Demikian pula syukur. Seorang yang menyadari bahwa kenikmatan yang dia dapatkan semuanya adalah dari Allah, tentu akan memuji Allah atasnya, menyandarkan nikmat kepada-Nya, dan menggunakannya untuk taat kepada perintah-Nya. Dengan syukur inilah hidupnya akan semakin bertabur nikmat dan pahala. Sementara nikmat terbesar yang harus selalu diingat dan disyukuri oleh seorang hamba adalah nikmat hidayah kepada islam dan iman. Nikmat inilah yang membuat berbagai rintangan dan cobaan terasa ringan.
Allah ta’ala berfirman,
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
“Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka” (QS. Thaha: 123).
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Allah menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya; bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat”.
Inilah nikmat yang menjaga seorang hamba dari kesesatan dan kehancuran. Sesat karena beramal tanpa ilmu. Atau hancur karena tidak mengamalkan ilmu dan kebenaran. Dengan demikian, meniti jalan Islam butuh kepada ilmu dan kesungguhan. Dengan ilmu, seorang hamba akan bisa beribadah dengan benar. Dengan kesungguhan, seorang hamba akan menggapai hidayah dan kesabaran di atas segala cobaan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,
مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, niscaya Allah pahamkan dia dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Beliau juga menyatakan,
من سلك طريقًا يلتمس فيه علمًا سهَّل اللهُ له طريقًا إلى الجنةِ
“Barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu [agama] maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Manusia lebih membutuhkan ilmu lebih banyak daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu dibutuhkan sebanyak bilangan nafas.”
Anda masih hidup hari ini? Itu artinya anda masih membutuhkan ilmu dan keimanan. Tanpa ilmu dan keimanan maka hidup anda akan penuh dengan kerugian. Allah ta’ala berfirman,
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3)
—
Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.
Artikel Muslim.Or.Id

Kemuliaan Sejati Tempatnya Di Akhirat

 

BEKAM KHUSUS MUSLIMAH 

 BEKAM SURABAYA 




KAMI MELAYANI BEKAM KHUSUS MUSLIMAH ATAU WANITA

contact ummu izzul 

telp: 088805704623

alamat kali kepiting jaya 4/54 sby 


Kemuliaan Sejati Tempatnya Di Akhirat




Di dunia, boleh jadi seorang itu hina, orang yang tidak dianggap, kaum yang termarjinalkan dan segala julukan lain yang menunjukkan pelecehan. Tapi ukuran di akhirat bukan harta, kedudukan dan segala macam perangkat dunia lainnya, kemuliaan yang kekal di akhirat adalah karena Iman dan amal salih. Lihat bagaimana Allah membalas sebuah kaum yang di dunia ini, mereka termajinalkan, mereka bukan hanya digusur tanahnya tau diusir lapaknya, tapi mereka di bakar hidup-hidup, tanpa ada LSM yang membela sama sekali, tapi Allah sebutkan:
 إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصّٰلِحٰتِ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهٰرُۚ ذٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْكَبِيرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah al fauzul kabiir (keberuntungan yang besar)” (QS Al Burruj 11)
Bahkan para ulama mengatakan, satu-satunya ayat yang menyebutkan al fauz al kabiir, adalah dalam ayat ini.
Sebaliknya Allah berfirman,
ذُقْ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُٱلْكَرِيمُ
“Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia” (QS. Ad Dukhan: 49)
Apa yang Allah timpakan kepada orang-orang perkasa lagi mulia ini?
إِنَّ شَجَرَتَ ٱلزَّقُّومِ  طَعَامُ ٱلْأَثِيمِ   كَٱلْمُهْلِ يَغْلِى فِى ٱلْبُطُونِ  كَغَلْىِ  خُذُوهُ فَٱعْتِلُوهُ إِلَىٰ سَوَآءِ ٱلْجَحِيمِ ثُمَّ صُبُّوا۟ فَوْقَ رَأْسِهِۦ مِنْ عَذَابِ ٱلْحَمِيمِ
“Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas. Peganglah dia kemudian seretlah dia ke tengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas” (QS. Ad Dukhaan: 43-48)
Kenapa orang perkasa dan mulia ini sedemikian hina di akhirat, jawabnya karena mereka “al atsiim”, banyak berdosa.
Kita berlindung kepada Allah dari kemuliaan dunia yang menipu dari kehinaan yang pedih di akhirat nanti.
—
Penulis: Amrullah Akadhinta, ST.
Artikel Muslim.Or.Id

Mengapa Hati Ini Masih Merasa Iri?

 

BEKAM KHUSUS MUSLIMAH 

 BEKAM SURABAYA 




KAMI MELAYANI BEKAM KHUSUS MUSLIMAH ATAU WANITA

contact ummu izzul 

telp: 088805704623

alamat kali kepiting jaya 4/54 sby 

 

Mengapa Hati Ini Masih Merasa Iri?


Pernah mungkin kita mendengar kisah dua orang tetangga dekat bisa saling bunuh. Penyebabnya karena yang satu buka toko dan lainnya pun ikut-ikutan. Akibat yang satu merasa tersaingi, akhirnya ada rasa iri dengan kemajuan saudaranya. Tetangga pun tidak dipandang. Awalnya rasa iri dipendam di hati. Namun karena semakin hangat dan memanas, akhirnya berujung pada pertikaian yang berakibat hilangnya nyawa. Sikap seperti ini pun mungkin pernah terjadi pada kita. Namun belum sampai parah sampai gontok-gontokan. Rasa iri tersebut muncul kadangkala karena persaingan. Sikap iri semacam ini jarang terjadi pada orang yang usahanya berbeda. Jarang tukang bakso iri pada tukang becak. Orang yang saling iri biasanya usahanya sama. Itulah yang biasa terjadi. Tukang bakso, yah iri pada tukang bakso sebelah. Si empunya toko sembako iri pada orang yang punya toko yang semisal, dan seterusnya.
Perlu diketahui bahwa iri, dengki atau hasad –istilah yang hampir sama- adalah menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain. Asal sekedar benci orang lain mendapatkan nikmat, itu sudah dinamakan hasad, itulah iri. Hasad seperti inilah yang tercela. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
ان الحسد هو البغض والكراهة لما يراه من حسن حال المحسود
“Hasad adalah sekedar benci dan tidak suka terhadap kebaikan yang ada pada orang lain yang ia lihat.”[1]
Adapun ingin agar semisal dengan orang lain, namun tidak menginginkan nikmat pada orang lain itu hilang, maka ini tidak mengapa. Hasad model kedua ini disebut ghibthoh. Yang tercela adalah hasad model pertama tadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَلاَ تَحَاسَدُوا ، وَلاَ تَبَاغَضُوا ، وَلاَ تَدَابَرُوا ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
“Janganlah kalian saling hasad (iri), janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi (saling mendiamkan/ menghajr). Jadilah kalian bersaudara, wahai hamba Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hasad Bisa Terjadi Pada Orang Beriman
Hasad bisa saja terjadi pada orang-orang beriman. Hal ini dapat kita lihat dalam kisah Nabi Yusuf dengan suadara-saudaranya. Sampai-sampai ayah Yusuf (Ya’qub) memerintahkan pada Nabi Yusuf agar jangan menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya agar tidak membuat mereka iri. Allah Ta’ala berfirman,
قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Yusuf: 5)
Lalu lihatlah bagaimana perkataan saudara-saudara Yusuf.
إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“(Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.”(QS. Yusuf: 8). Lihatlah bagaimana hasad pun bisa terjadi di antara orang beriman, bahkan di antara sesama saudara kandung.
Hasad (Iri) Tidak Ada Untungnya
Patut kita renungkan bersama bahwa rasa iri sebenarnya tidak pernah ada untungnya sama sekali. Yang ada hanya derita di dalam hati. Orang yang hasad pada saudaranya sama saja tidak suka pada ketentuan atau takdir Allah. Karena orang yang hasad tidak suka atas ketentuan Allah pada saudaranya. Padahal Allah yang menakdirkan saudaranya jadi kaya, saudaranya punya kedudukan, saudaranya sukses dalam bisnis, dan lainnya. Orang yang hasad sama saja menentang ketentuan ini. Allah Ta’ala berfirman,
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az Zukhruf: 32). Padahal Allah yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk hamba-Nya.
Orang yang hasad sama saja dengan orang yang menzholimi saudaranya. Oleh karena itu, orang yang didengki (dihasad) akan mendapatkan manfaat dari orang yang hasad di akhirat kelak. Kebaikan orang yang hasad akan diberikan pada orang yang didengki (dihasad) dan kejelekan orang yang didengki (dihasad) akan beralih pada orang yang hasad. Bisa terjadi seperti ini karena orang yang hasad layaknya orang yang menzholimi orang lain. Sehingga penyelesaiannya dengan jalan seperti itu. Lebih-lebih lagi jika hasad tadi diteruskan dengan perkataan, perbuatan dan ghibah (menggunjing), tentu akibatnya lebih parah.[2]
Itu tadi adalah akibat di akhirat. Sedangkan di dunia, orang yang hasad pun menderitakan berbagai kerugian. Jika orang yang ia hasad terus mendapatkan nikmat, hatinya akan semakin sedih dan terus seperti itu. Bulan pertama, ia hasad karena omset saudaranya meningkat 50 %, ini kesedihan pertama. Jika bulan kedua meningkat lagi, ia pun akan semakin sedih. Begitu seterusnya, orang yang hasad tidak pernah mendapatkan untung, malah kesedihan yang terpendam dalam hati yang ia peroleh waktu demi waktu.
Cara Mengatasi Penyakit Hasad
Agar kita tidak terjerumus dalam penyakit hati yang satu ini, maka ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan, di antaranya:
Pertama: Pertebal iman dan rasa yakin pada takdir Allah, tentu saja dengan terus menambah ilmu.
Kedua: Mengingat akibat hasad yang berdampak di dunia maupun di akhirat.
Ketiga: Selalu bersyukur dengan yang sedikit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ
“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667)
Keempat: Selalu memandang orang yang di bawahnya dalam masalah dunia. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِى الْمَالِ وَالْخَلْقِ ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ
“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang lain diberi kelebihan harta dan fisik [atau kenikmatan dunia lainnya], maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari no. 6490 dan Muslim no. 2963)
Dalam hadits lain disebutkan,
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Muslim no. 2963)
Kelima: Banyak mendoakan orang lain yang mendapatkan nikmat dalam kebaikan karena jika kita mendoakannya, kita akan dapat yang semisalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang bertugas mengaminkan do’anya kepada saudarany). Ketika dia berdo’a kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang semisal dengannya.” (HR. Muslim no. 2733)
Setelah mengetahui hal ini, masihkah ada iri pada saudara kita? Semoga Allah memberi taufik untuk terhindar dari penyakit yang satu ini. Amin, Yaa  Mujibas Saailin.
Panggang-GK, 29 Jumadil Awwal 1431 H (13/05/2010)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

tanda hati yang sakit

Tanda Hati yang Sakit


Di antara tanda hati yang sakit adalah hamba sulit untuk merealisasikan tujuan penciptaan dirinya, yaitu untuk mengenal Allah, mencintai-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, kembali kepada-Nya dan memprioritaskan seluruh hal tersebut daripada seluruh syahwatnya. Akhirnya, hamba yang sakit hatinya lebih mendahulukan syahwat daripada menaati dan mencintai Allah sebagaimana yang difirmankan Allah ‘azza wa jalla,
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. Al Furqan: 43).
Beberapa ulama salaf menafsirkan ayat ini dengan mengatakan,
هو الذي كلما هوى شيئا ركبه . فيحيا في هذه الحياة الدنيا حياة البهائم لا يعرف ربه عز وجل ولا يعبده بأمره ونهيه كما قال تعالى : ( يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوىً لَهُمْ)(محمد: من الآية12)
“Orang yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah dia yang senantiasa menunggangi hawa nafsunya, sehingga kehidupan yang dijalaninya di dunia ini layaknya kehidupan binatang ternak, tidak mengenal Rabb-nya ‘azza wa jalla, tidak beribadah kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, persis seperti firman Allah ta’ala (yang artinya), ‘Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka’ (QS. Muhammad: 12).”
Pada akhirnya, balasan sesuai dengan perbuatan, sebagaimana di dunia dia tidak menjalani kehidupan yang dicintai dan diridhai Allah ‘azza wa jalla, dia menikmati seluruhnya dan hidup menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya, maka demikian pula di akhirat kelak, dia akan menjalani kehidupan yang tiada kebahagiaan di dalamnya, dirinya tidak akan mati sehingga terbebas dari adzab yang menyakitkan. Dia tidak mati, tidakpula hidup,
يَتَجَرَّعُهُ وَلا يَكَادُ يُسِيغُهُ وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ وَمِنْ وَرَائِهِ عَذَابٌ غَلِيظٌ
“Diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat” (QS. Ibrahim: 17).
Diantara tanda hati yang sakit adalah pemiliknya tidak merasa terluka akibat tindakan-tindakan kemaksiatan sebagaimana kata pepatah ‘وما لجرح بميت إيلام’, tidaklah menyakiti, luka yang ada pada mayat. Hati yang sehat akan merasa sakit dan terluka dengan kemaksiatan, sehingga hal ini melahirkan taubat dan inabah kepada Rabb-nya ‘azza wa jalla. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya” (QS. Al A’raaf: 201).
Allah berfirman ketika menyebutkan karakter orang beriman,
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (QS. Ali Imran: 135).
Maksudnya adalah ketika mereka bermaksiat, mereka mengingat Allah ‘azza wa jalla, ancaman dan siksa yang disediakan oleh-Nya bagi pelaku kemaksiatan, sehingga hal ini mendorong mereka untuk beristighfar kepada-Nya.
Penyakit hati justru menyebabkan terjadinya kontinuitas keburukan seperti yang dikemukakan oleh al-Hasan ketika menafsirkan firman Allah,
كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka” (QS. Al Muthaffifin: 14).
Beliau mengatakan,
هو الذنب على الذنب حتى يعمى القلب أما سليم القلب فيتبع السيئة الحسنة والذنب التوبة
“Hal itu (rahn) adalah dosa di atas dosa yang membutakan hati. Adapun hati yang salim justru akan melahirkan perbuatan yang baik setelah dulunya berbuat buruk, melahirkan taubat setelah dulunya berbuat dosa.”
Di antara tanda penyakit hati adalah pemiliknya tidak merasa risih dengan kebodohannya terhadap kebenaran. Hati yang salim akan merasa resah jika muncul syubhat di hadapannya, merasa sakit dengan kebodohan terhadap kebenaran dan ketidaktahuan terhadap berbagai keyakinan yang menyimpang. Kebodohan merupakan musibah terbesar, sehingga seorang yang memiliki kehidupan di dalam hati akan merasa sakit jika kebodohan bersemayam di dalam hatinya. Sebagian ulama mengatakan,
ما عصى الله بذنب أقبح من الجهل ؟
“Adakah dosa kemaksiatan kepada Allah yang lebih buruk daripada kebodohan?”
Imam Sahl pernah ditanya,
يا أبا محمد أي شيء أقبح من الجهل؟ قال ” الجهل بالجهل ” ،قيل : صدق لأنه يسد باب العلم بالكلية
“Wahai Abu Muhammad, adakah sesuatu yang lebih buruk daripada kebodohan? Dia menjawab, “Bodoh terhadap kebodohan.” Kemudian ada yang berkata, “Dia benar, karena hal itu akan menutup pintu ilmu sama sekali.”
Ada penyair yang berkata,
وفي الجهل قبل الموت موت لأهله             وأجسامهم قبل القبور قبور
وأرواحهم في وحشةٍ من جسومهم           وليس لهم حتى النشور نشور
Kebodohan adalah kematian sebelum pemiliknya mati,
tubuh mereka layaknya kuburan sebelum dikuburkan
Kepada tubuh yang semula, ruh mereka ingin kembali,
padahal bagi mereka, tidak ada kebangkitan hingga hari kebangkitan
Di antara tanda penyakit hati adalah pemiliknya berpaling dari nutrisi hati yang bermanfaat dan justru beralih kepada racun yang mematikan, sebagaimana tindakan mayoritas manusia yang berpaling dari al-Quran yang dinyatakan Allah sebagai obat dan rahmat dalam firman-Nya,
وننزل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين
“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (QS. Al Isra: 82).
Mereka justru berpaling mendengarkan lagu yang menumbuhkan kemunafikan dalam hati, menggerakkan syahwat dan mengandung kekufuran kepada Allah ‘azza wa jalla. Pada kondisi ini, hamba mendahulukan kemaksiatan karena kecintaannya kepada sesuatu yang dimurkai oleh Allah dan rasul-Nya. Dengan demikian, mendahulukan kemaksiatan merupakan buah dari penyakit hati dan akan menambah akut penyakit tersebut. Sebaliknya, hati yang sehat justru akan mencintai apa yang dicintai Allah dan rasul-Nya sebagaimana firman-Nya,
وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْأِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ
“Tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (QS. Al Hujuraat: 7).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا
“Orang yang ridhal Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai rasul, niscaya akan merasakan kelezatan iman.” [HR. Muslim].
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga diriku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia.” [HR. Bukhari dan Muslim].
Diantara tanda penyakit hati, pemiliknya condong kepada kehidupan dunia, merasa enjoy dan tenteram dengannya, tidak merasa bahwa sebenarnya dia adalah pengembara di kehidupan dunia, tidak mengharapkan kehidupan akhirat dan tidak berusaha mempersiapkan bekal untuk kehidupannya kelak disana.
Setiap kali hati sembuh dari penyakitnya, dia akan beranjak untuk condong kepada kehidupan akhirat, sehingga keadaannya persis seperti apa yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل
“Hiduplah di dunia ini seakan-akan engkau orang asing atau orang yang sekedar menumpang lewat” [HR. Bukhari].
Wallahul muwaffiq.
Dikutip dari al-Bahr ar-Raiq karya Syaikh Ahmad Farid

Hikmah sakit


BEKAM KHUSUS MUSLIMAH 

 BEKAM SURABAYA 




KAMI MELAYANI BEKAM KHUSUS MUSLIMAH ATAU WANITA

contact ummu izzul 

telp: 088805704623

alamat kali kepiting jaya 4/54 sby 



 HIKMAH SAKIT

Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya. Allah ta’ala berfirman yang artinya,  

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’: 35).

Sahabat Ibnu ‘Abbas -yang diberi keluasan ilmu dalam tafsir al-Qur’an- menafsirkan ayat ini: “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Jarir). 

 Dari ayat ini, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Namun di balik cobaan ini, terdapat berbagai rahasia/hikmah yang tidak dapat di nalar oleh akal manusia.

beberapa hikmah seputar sakit :


Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
 “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)


Sakit akan menghapuskan dosa
Ketahuilah wahai saudaraku, penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah engkau lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Sebagaimana firman Allah ta’ala,
“Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura: 30).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)

Sakit akan Membawa Keselamatan dari api neraka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
” Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim)

Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya. Bergembiralah wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka.” (HR. Al Bazzar, shohih)

Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya
Wahai saudaraku, sesungguhnya di balik penyakit dan musibah akan mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah agar kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal ‘afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabb-nya. Oleh karena itu, jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Rabb-Nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Allah ta’ala berfirman yang artinya,

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. al-An’am: 42)

yaitu supaya mereka mau tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah kepada-Ku, dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku, dengan cara taat dan pasrah kepada-Ku. (Tafsir Ibnu Jarir)
Terdapat hikmah yang banyak di balik berbagai musibah
Wahai saudaraku, ketahuilah di balik cobaan berupa penyakit dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak. Maka perhatikanlah saudaraku nasehat Ibnul Qoyyim rahimahullah berikut ini: “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali, -ed). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas)
Ingatlah saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih). Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini. Amin.
***

12 Februari, 2014

Bekam khusus muslimah

BEKAM KHUSUS MUSLIMAH 

 BEKAM SURABAYA 







KAMI MELAYANI BEKAM KHUSUS MUSLIMAH ATAU WANITA



Wanita sangat rentan mengalami problem kesehatan di bandingkan kaum pria hal ini di sebabkan oleh beberapa faktor  : 

  • secara fisik kaum pria lebih kuat dari pada wanita
  • psikologis kaum pria  juga lebih kuat karena kaum wanita memiliki emosional yang labil 
  • beban pekerjaan yang melelahkan
  • kaum wanita makan lebih rawan sebab beliaunya yang memasak dan pasti lebih sering makan
 gangguan  sering menjangkiti kaum wanita di antaranya :
  1. kolesterol , asama urat , kencing manis (diabetes) , darah tinggi
  2. keputihan , gangguan haid , kurang gairah , kelelahan kronis dan mental
  3. mioma , tumor/kanker payudara dll  
karena itu kami memberi layanan bekam khusus wanita  agar lebih wanita lebih sehat dan tidak terfitnah dengan bekam terhadap lawan jenisnya 

contact ummu izzul 

telp: 088805704623

alamat kali kepiting jaya 4/54 sby 



11 Februari, 2014

WANGI VAGINA

permasalahan kewanitaan sering jadi problem kaum hawa faktor utamanya adalah sebagai berikut :
  • stress ini adalah masalah utama dimana stress akan memicu hormon adrenalin dan meningkatkan keadaan tubuh dan darah menjadi asam sehingga tubuh akan mudah di tumbuhi virus dan kuman.
  • makanan faktor makanan tertentu yang dapat memicu alergi serta makanan yang di asinkan dari jenis hewan seperti petis , ikan asin dan terasi .hal ini dapat meracuni tubuh dan meyebabkan vagina baunya  kurang sedap
  • memakai pakaian (celana dalam) yang kurang bersih seperti lembab dan ganti pakaiannya (celana dalam) terlalau lama .
  • air yang di gunakan untuk sanitasi mandi atau keperluan lain kurang memadai kebersihannya.
solusi untuk makanan hindari makanan yang memicu keadaan vgina sangat lembab seperti nanas , pisang hijau dan pepaya bagi yang punya vagina sensitif dan lembab sekali..
dalam hubungan perhatikan kebersihan masing2x anggota badan terutama kemaluan .juga janagan sering memasukkan jari pada vagina lawan anda jika di khawatirkan lecet ataupun terkena bakteri atau kurang bersih.
hindari makanan di awetkan seperti terasi dan petes.

herbal :
1. sambiloto
2. kulit delima
3. beluntas
4. sirih
5. pandan
keringkan giling , campur , ayak 100mesh sangrai dan masukkan kapsul 600mg
minum 2x3 kapsul ;
perhatian jika sehabis minum ini insya allah kewanitaan anda akan mengeluarkan bau yang khas dan wangi..

minat beli hanya 30.000 isi 80kapsul  


DI SARANKAN UNTUK BER BEKAM

ASAM URAT


BEKAM KHUSUS MUSLIMAH 

 BEKAM SURABAYA 




KAMI MELAYANI BEKAM KHUSUS MUSLIMAH ATAU WANITA

contact ummu izzul 

telp: 088805704623

alamat kali kepiting jaya 4/54 sby 



asam urat :
asam urat dalam pengobatan tradisional di bagi 2 tipe
  1. tipe dingin dimana kaki tangan terasa dingin badan berat otot dan sendi kaku di sertai nafsu makan yang berkurang .
  2. tipe panas : kaki tangan panas atau normal terjadi sakit di persendian , air seni kuning daan sedikit pekat , badan kaku sulit di gerakkan , terlihat kemerah pada daerah persendian yang sakit .
prinsip dasar pengobatannya adlah pada tipe dingin maka di panaskan dan menyebarkan angin yang terjebak dalam persendian yang menyumbat meridian , serta memberikan herbal yang berhubungan dengan menstabikkan asam urat darah .
untuk tipe panas maka di berikan pengobatan dengan herba yang dingin dan mengusir angin serta meredakan nyeri serta melancarkan urine .

titik bekam yang boleh di berikan adalah . seluruh persendian yang memungkinkan untuk di bekam.
bekam efektif untuk mengeluarkan dan menstabilkan asam uratnya adalah .
punuk , kedua pundak , serta titik ginjal . untuk yang disertai alergi maka yang perlu di bekam adalah tepat di belakang betis karena di belakang betis ini ototnya besar sehingga memungkinkan menampung hasil dari sampah metabolisme . logikanya adalah jika anda membuat kopi yang di aduk maka setelah di aduk makanan akan turun ke bawah untuk di endapkan. 

08 Desember, 2013

penyakit perkembangan dan pengobatan

asam urat :
asam urat dalam pengobatan tradisional di bagi 2 tipe
  1. tipe dingin dimana kaki tangan terasa dingin badan berat otot dan sendi kaku di sertai nafsu makan yang berkurang .
  2. tipe panas : kaki tangan panas atau normal terjadi sakit di persendian , air seni kuning daan sedikit pekat , badan kaku sulit di gerakkan , terlihat kemerah pada daerah persendian yang sakit .
prinsip dasar pengobatannya adlah pada tipe dingin maka di panaskan dan menyebarkan angin yang terjebak dalam persendian yang menyumbat meridian , serta memberikan herbal yang berhubungan dengan menstabikkan asam urat darah .
untuk tipe panas maka di berikan pengobatan dengan herba yang dingin dan mengusir angin serta meredakan nyeri serta melancarkan urine .

titik bekam yang boleh di berikan adalah . seluruh persendian yang memungkinkan untuk di bekam.
bekam efektif untuk mengeluarkan dan menstabilkan asam uratnya adalah .
punuk , kedua pundak , serta titik ginjal . untuk yang disertai alergi maka yang perlu di bekam adalah tepat di belakang betis karena di belakang betis ini ototnya besar sehingga memungkinkan menampung hasil dari sampah metabolisme . logikanya adalah jika anda membuat kopi yang di aduk maka setelah di aduk makanan akan turun ke bawah untuk di endapkan. 

10 November, 2012

penanganan kanker dan tumor kandungan secara tradisional

sering kali jika keluarga kita terkena penyakit yang cukup parah jika keadaan sudah terlambat atau sudah pasrah maka biasanya pengobatan hanya bersifat sekenanya. apalagi jika penyakit itu bernama kanker atau tumor sepertinya hidup merasa gelap gulita dan bayangan kematian selalu muncul.
kanker atau tumor rahim di indonesia merupakan penyakit yang kerap di derita oleh kaum hawa , dan kadang deteksi dininya kurang sekali sehingga kadang penanganan terlambat sehingga 

30 Oktober, 2012

wangi vagina

permasalahan kewanitaan sering jadi problem kaum hawa faktor utamanya adalah sebagai berikut :
  • stress ini adalah masalah utama dimana stress akan memicu hormon adrenalin dan meningkatkan keadaan tubuh dan darah menjadi asam sehingga tubuh akan mudah di tumbuhi virus dan kuman.
  • makanan faktor makanan tertentu yang dapat memicu alergi serta makanan yang di asinkan dari jenis hewan seperti petis , ikan asin dan terasi .hal ini dapat meracuni tubuh dan meyebabkan vagina baunya  kurang sedap
  • memakai pakaian (celana dalam) yang kurang bersih seperti lembab dan ganti pakaiannya (celana dalam) terlalau lama .
  • air yang di gunakan untuk sanitasi mandi atau keperluan lain kurang memadai kebersihannya.
solusi untuk makanan hindari makanan yang memicu keadaan vgina sangat lembab seperti nanas , pisang hijau dan pepaya bagi yang punya vagina sensitif dan lembab sekali..
dalam hubungan perhatikan kebersihan masing2x anggota badan terutama kemaluan .juga janagan sering memasukkan jari pada vagina lawan anda jika di khawatirkan lecet ataupun terkena bakteri atau kurang bersih.
hindari makanan di awetkan seperti terasi dan petes.

herbal :
1. sambiloto
2. kulit delima
3. beluntas
4. sirih
5. pandan
keringkan giling , campur , ayak 100mesh sangrai dan masukkan kapsul 600mg
minum 2x3 kapsul ;
perhatian jika sehabis minum ini insya allah kewanitaan anda akan mengeluarkan bau yang khas dan wangi..

minat beli hanya 30.000 isi 80kapsul